Senin, 08 Desember 2008

TANYA DALAM PEKAT

Belum datang malam

Tapi kegelapan telah datang

Hujan rintik...

Tak terlalu dingin untuk menemani kesepianku

Terlalu hangat dibandingkan dengan mimpi-mimpiku yang mulai membeku


Berjalan. Sendirian.

Aku berpikir sepanjangan. Tak habis-habis. Berputar dan berputar. Tak tahu mana pangkal mana ujung.

Tentang semuanya. Tentang hidup. Hidupku, hidupmu, hidup kita.


Aku tak mau kembali ke tempatku. Sepi di sana.

Aku mau pulang ke rumah saja.

Rindu akan atmosfer aneh yang selalu menarikku untuk kembali ke sana.

Dekat ibu, dekat ayah, dekat adik.


Aku bertanya terus-terusan.

Apa yang sedang kulakukan?

Buat apa aku melakukan semuanya?

Apa yang menyebabkan aku masih berjuang?

Padahal mimpi-mimpiku mulai pudar, kawan.

Padahal aku sudah sangat lelah...


Siapa pula yang menantiku untuk pulang?

Rumahku jauh...Ibu pun jauh...

Aku tahu sahabat-sahabatku selalu ada.

Mereka punya impian mereka sendiri dan aku pun mungkin juga.


Sekarang kemana aku mesti bicara?

Saat beban terlalu berat. Saat aku tak mencapai apa yang seharusnya dapat kucapai. Saat aku melalukan banyak kesalahan.

Kemana larinya kebebasan dan kemandirianku?

Tak kusangka aku serapuh ini.


Apa yang benar-benar kuharapkan?

Kadang aku tak tahu. Kadang aku benar-benar tahu. Kadang aku pura-pura tahu.

Mengapa aku menangis?

Buat siapa?

Buat mereka yang mengkhianatiku dan diri mereka sendiri?

Buat mereka yang meninggalkan aku?

Buat mereka yang mereka yang kurindukan?

Atau buat diriku yang dibohongi melulu?


Mengapa aku harus tertawa saat aku benar-benar sedih?

Supaya hilang mungkin semua bebanku?

Atau supaya reda rasa sakitku?

Tak juga hilang-hilang kepedihan itu dariku.

Apa lagi yang harus kulakukan untuk menghempas kesedihan itu?

Berlari jauh-jauh darinya pun tak membuatnya jera.

Aku harus hadapi. Terus menghadapinya.

Sampai kadang aku terlalu muak.


Aku bertumpu pada satu titik.

Apa yang bisa membuatku bahagia?

Dan pantaskah aku bahagia?

Apa itu yang jadi tujuan akhir tiap orang?


Angin berhembus.

Tak menusuk, lemah, seperti aku yang lemah.

Jalanan ramai, tapi tak sesak.

Motor-motor melaju kencang dan pikiran-pikiran di tiap kepala menguap bersama malam yang makin larut.

Kupandangi lagi sekitarku, melepaskan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak akan digubris siapapun.

Tak lama, dan otakku berlari lagi.


Bahagia itu seperti apa pula?

Tiap otak mungkin punya bahagia yang berbeda.

Tapi bisakah semua manusia di dunia jadi bahagia bersama-sama?

Tanpa ada yang perlu dikorbankan mimpi-mimpinya?

Hanya surga mungkin yang bisa.


Dan bukan dunia namanya jika manusia tak saling kuasa.

Dibalik megahnya bangunan-bangunan kota, kuli-kuli berpeluh tanpa jaminan bahagia, mungkin.

Ah, mana kutahu pula. Itu dari sudut pandangku saja.

Lalu mengapa pula yang satu bergelimang harta dan yang lain mati karena kelaparan?

Mungkin kita tak akan pernah bisa benar-benar persis sama di tanah ini, tapi alangkah malangnya mereka yang dilahirkan hanya untuk terlunta-lunta sementara saudaranya terlalu kenyang oleh gemerlap.


Lalu siapa yang mesti disalahkan? Kadang mereka yang sudah terlalu malang pun tetap disalahkan.

Atas kemalasannya.

Atas kebodohannya.

Bahkan atas nasib.

Lalu tak pernahkah ditanyakan mengapa mereka begitu?

Karena apa bodoh? Karena apa malas?

Pernahkah mereka diberi kesempatan mengecap sedikit saja kepiawaian dari yang bermegah?

Kesempatan sebentar saja menimba ilmu dari yang cemerlang?

Maka takdir lah yang jadi kambing hitam.

Bisakah sekali-kali yang malang tak selalu malang sampai mereka mati?

Beri sedikit saja mereka kesempatan mengalahkan apa yang kalian sebut takdir itu.

Karena memang mungkin beginilah dunia.

Jika ada kemalangan biarlah pula ada keberuntungan.


Tapi mungkin kalian tak terlampau peduli.

Apalah arti serentetan pertanyaan dari seorang gadis yang mulai kehilangan mimpi?

Maka dibiarkanlah saudara-saudaraku yang malang dibingkai dalam figura kehidupan.

Entahlah dibingkai atau dikurung.

Tidak ada komentar: