Rabu, 08 Oktober 2008

SeLaMAt DaTanG LaGI MalaM.....

Tenggelamkan aku dalam lautan tawar

Supaya larut semua pedihku


Cahaya yang kucari kelihatan begitu nyata

Tapi bukan lilin yang selama ini kucari untuk menjagaku saat malam atau saat matahari meredup entah karena apa


Cahaya yang datang itu tetap saja matahari yang biasanya

Nyata kurasakan tapi begitu jauh tak tersentuh

Yang sewaktu-waktu bisa membakarku saat aku terbang terlalu tinggi

Yang meninggalkanku dalam dingin saat hari tak lagi siang


Kadang tak mengapa

Kadang aku baik-baik saja meski matahari tak setia

Kadang matahariku cukup menghangatkanku dan memberiku daya untuk menghadapi gelap

Gelap yang sebenarnya sudah akrab denganku dan sering membuatku tertawa ironis


Sekarang aku ditinggalkan lagi dalam malam

Hanya kunang-kunang pengharapan yang ada beterbangan datang dan pergi


Aku sakau akan matahari semuku

Tapi tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menunggu dalam kekakuan akibat lelahku

Lelah berlari di hutan yang tak tahu dimana ujungngnya

Lelah menduga apa yang ada di balik tikungan selanjutnya

Lelah mengetahui bahwa tak ada lilin yang kucari dibalik tikungan gelap


Bukan matahari yang megah tapi semu yang kumau

Hanya lilin yang bisa membawaku keluar dari labirin yang kosong dan berliku

Lilin yang mungkin akan membakar dirinya sampai tak bersisa

Yang mungkin akan binasa seperti halnya aku akan lenyap


Sudah aku nikmati dulu sajalah apa yang kupunya

Mungkin baru saat di ujung jalan menuju jalan selanjutnya aku bisa paham mengapa terlalu banyak matahari semu

Siapa tahu nanti akhirnya bukanlah lilin yang kubutuhkan

Selamat datang lagi, malam...




Tidak ada komentar: