Rabu, 14 Juli 2010

Kalau Rakyat Australia dan Timor Leste ‘Bersuara’ Lewat Celah Artistik



gambar: primaironline.com

Judul Film: Balibo
Sutradara: Robert Connolly
Pemain : Roger East (Anthony Lapaglia); Jose Ramos Horta (Oscar Isaac); Brian Peters (Thomas Wright); Tony Stewart (Mark Leonard Winter); Gary Cunningham (Gyton Grantley); Greg Shackleton (Damon Gameau) ; Malcolm Rennie (Nathan Phillips); Juliana (Bea Viegas); Young Juliana (Anamaria Barreto).
Tahun : 2009


Para jurnalis Australia itu berlarian “menyambut kedatangan” tentara Indonesia ke tanah Timor. Langkah kaki lima orang jurnalis itu berlawanan arah dengan para Fretelin yang mundur mencari daerah lebih menguntungkan bagi mereka (Fretelin) untuk ber-baku tembak. Tentara-tentara Fretelin meneriaki para jurnalis; memperingatkan mereka untuk menjauh. Namun agaknya para jurnalis itu punya kepentingan lebih besar ketimbang nyawa. Ya, mereka berniat mengambil gambar penyerbuan pertama tentara Indonesia ke tanah Timor.

Gambar telah didapat. Sebuah tembakan melesat ke arah para jurnalis! Meleset. TNI makin dekat. Para jurnalis itu tak punya banyak waktu melarikan diri. Gary Cunningham (Gyton Grantley) masih tak puas. Ia mencoba mengambil beberapa gambar lagi. Keempat jurnalis lain yang mulai gelisah memintanya segera mengakhiri pengambilan gambar; mendesaknya mencari tempat lebih aman. Terbirit-birit dan takut, mereka akhirnya mendapatkan sebuah rumah di desa yang sudah kosong untuk bersembunyi. Semua terengah-engah. Kegelisahan mereka makin jadi karena penyakit asma salah seorang rekan mereka, Greg Shackleton (Damon Gameau), kumat. Tony Stewart (Mark Leonald Winter) mencoba menenangkan rekannya yang sesak nafas itu. Dari balik celah pintu dan jendela, Garry dan Malcolm Rennie (Nathan Phillips) mengintip para TNI tak berseragam yang telah mengepung desa dan berjaga di sekitar rumah dimana mereka sembunyi. Dalam ketegangan dan kekalutan, Brian Peters (Thomas Wright) malah keluar dari rumah persembunyian. Ia lantas menghampiri sang Komandan Lapangan ; bermaksud bernegosiasi demi keselamatan nyawa diri dan nyawa kawan-kawannya. Keputusan naif. Senjata langsung diarahkan ke kepalanya dan…dorrrr!!!.

Balibo, judul film itu. Film yang diangkat dari buku berjudul “Cover Up” oleh Jill Jolliffe itu mengangkat kasus pembunuhan lima orang jurnalis Australia (lebih dikenal dengan peristiwa Balibo Five) oleh militer Indonesia di Timor Lorosae (sekarang Timor Leste). Berlawanan dengan “fakta sejarah” yang selama ini dikumandangkan pemerintah Indonesia dan Australia (bahwa kelima jurnalis tersebut terperangkap dalam baku tembak), film ini menuai kontroversi, terlebih di Indonesia. Pembatalan penayangannya di JiFFest (Jakarta International Film Festival) karena larangan LSF (Lembaga Sensor Film) merupakan segelintir bukti dari “penolakan” terhadap film ini.

Film berdurasi satu tiga per empat jam ini memang tak memberi “ruang bicara” bagi pihak Indonesia. Dan meski “ruang bicara” bagi pihak Timor terwakili lewat keterlibatan Jose Ramos Horta (Oscar Isaac) dalam membantu wartawan senior Australia Roger East (Anthony Lapaglia) mengungkap kasus Balibo Five, secara umum sudut pandang film ini tetap didominasi kacamata Australia.

Atmosfer yang diciptakan film ini kuat dan nyata sehingga mampu mengutak-atik emosi penontonnya. Kepanikan, ketakutan, dan kegelisahan kelima jurnalis menjelang kematian mengajak penonton menahan nafas; was-was. Visualisasi adegan-adegan realis yang dibangun sejak awal mengkondisikan sebentuk kehilangan saat para jurnalis akhirnya terbunuh. Hanya saja, atmosfer film yang dibangun oleh backsound, alur, sinematografi, dan dialog, pada akhirnya menggiring emosi penonton menuju simpati pada pihak Australia. Karenanya, jika menonton film tersebut tanpa wacana memadai mengenai konflik di Timor Lorosae pada 1975, penonton akan cenderung memihak Australia.

Balibo mengaplikasi alur campuran. Alur pertama adalah alur maju yang menceritakan bagaimana Ramos Horta dan Roger East mencari tahu keberadaan kelima jurnalis muda Australia. Setiap kali keduanya sampai di sebuah wilayah, penonton diajak mundur kembali ke potongan-potongan peristiwa lampau di tempat sama. Potongan-potongan peristiwa tersebut membentuk alur kedua, yakni alur yang menceritakan perjalanan kelima orang jurnalis Australia yang mencari berita sehubungan dengan “isu” invasi Indonesia ke Timor. Masih ada alur terakhir, yakni alur yang berseting kini: Timor Leste setelah “lepas” dari Indonesia. Alur yang porsi durasinya tidak sebanyak alur pertama maupun kedua ini berfokus pada cerita seorang wanita bernama Juliana (Bea Viegas) yang menjadi saksi peristiwa pembantaian massal di Timor oleh TNI, tak lama setelah peristiwa pembunuhan kelima jurnalis Australia terjadi.

Wajar saja bila kemudian film beralur banyak ini memiliki lebih dari satu klimaks. Klimaks pertama tampil saat pembunuhan terhadap lima wartawan terjadi. Klimaks kedua muncul pada pembantaian di Timor. Klimaks kedua yang dikondisikan dramatis dengan gerak lambat dan backsound sedih adalah puncak dari suasana yang telah dibangun perlahan sejak awal.

Meski alur rumit, penonton tidak perlu bersusah payah membangun konsentrasi. Suasana yang terbangun dengan kuat tak menyisakan tempat bagi kelelahan dan kritik penonton sehubungan dengan perkara teknis di tengah-tengah film. Detil diperhatikan; mulai dari akting pemeran utama sampai pemeran pembantu, latar pedesaan, dan pilihan pakaian. Secara umum, teknis film ini matang.

Terlepas dari ada atau tidaknya motif politis yang coba disuguhkan lewat Balibo, kelemahan dari film ini ada pada –sekali lagi- ketakberimbangan “ruang bicara” bagi ‘kubu’ Indonesia. Orang-orang Indonesia yang hanya diwakili TNI dicitrakan kejam tanpa diberi kesempatan menampilkan sisi manusiawinya.

Jika kemudian film ini terkesan memihak, ada manfaat yang dapat diperoleh oleh para penonton yang tidak ingin memihak siapapun. Film ini bertujuan menyajikan sebuah “kebenaran” tandingan yang berbeda dari “kebenaran” utama-pro pemerintah (baik pemerintah Indonesia maupun Australia) yang selama ini beredar sehubungan dengan kasus Balibo Five. Australia yang “mendominasi” film ini kemudian harus dispesifikasikan lagi menjadi “rakyat Australia” dan bukan “pemerintah Australia”, karena film ini pun mengkritisi abainya pemerintah negri kangguru itu dalam mengusut kasus kematian lima jurnalisnya di Balibo.

Dengan menarik “keberpihakan film pada rakyat Australia dan Timor Leste” dalam konteks yang lebih luas, ketak-berimbangan film ini terpatahkan. Terlebih bagi korban dan keluarga korban Balibo Five yang kasusnya tak juga mencapai titik tuntas. Tak hanya mereka, rakyat Timor yang diberi porsi cukup besar untuk “bersuara” pun demikian.

Sebab dari Balibo patut ditonton, bukan hanya karena orisinalitas konsep dan kematangan teknis yang berimbas pada kuatnya nyawa film, tapi juga karena motif yang berpotensi menjadi alasan dari dibuatnya film ini. Film ini adalah masukan tandingan yang segar bagi mereka yang telah berkutat dengan sejarah Timor, juga jalan memulai yang menarik bagi yang belum menyentuh wacana itu. Tertarik menonton? Carilah tempat yang aman untuk menonton karena film ini “sensitif”.


Resensi ini pernah dimuat di Natas Hot News Edisi Mei 2010

Tidak ada komentar: